Sabtu, 22 Juni 2019

Ringkasan Teori Humanistik


Mengaplikasikan teori humanistik dalam pembelajaran : 

Selain teori belajar behavioristik dan teori kognitif, teori belajar humanistik juga penting untuk dipahami. Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri.

Teori humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kkajian filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran. Pada teori humanistik, guru diharapkan tidak hanya melakukan kajian bagaimana dapat mengajar yang baik, namun kajian mendalam justru dilakukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana agar siswa dapat belajar dengan baik.

Pada penerapan teori humanistik ini adalah hal yang sangat baik bila guru dapat membuat hubungan yang kuat dengan siswa dan membantu siswa untuk berkembang secara bebas. Dalam prakteknya teori humanistik cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman serta menumbuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.

Walaupun secara eksplisit belum ada pedoman baku tentang langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak dapat dirumuskanl angkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Menentukan materi pembelajaran
3. Mengidentifikasikan kemampuan awal siswa.
4. Mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri        dalam atau mengalami dalam belajar.
5. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran
6. Membimbing siswa belajar secara aktif.
7. Membimbing siswa untuk memahami hakekat makna dari pengalaman belajarnya .
8. Membimbing siswa membuat konseptual pengalaman belajarnya
9. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situas  nyata.
10. Mengevaluasi proses dan hasil belajar

Meaningful learning dalam teori belajar humanistik :

Pandangan tentang belajar bermakna atau "Meaningful Learning" yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna dimana materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang menyenangkan yang akan memiliki keunggulan dalam meraup segenap informasi secara utuh sehingga konsekuensi akhir meningkatkan kemampuan siswa. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.  Pembelajaran bermakna ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki peserta didik dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Jumat, 26 Desember 2014

Shalawat Nabi Muhammad

RANTAU, ~ Allahumma Sholli Allah Muhammad, Semoga salawat, dan salam tercurah selalu terhadap junjungan kita Nabi Muhammad.SAW beserta seluruh keluarga para sahabat dan pengikut Beliau hingga akhir zaman. Tak terasa saat ini kita sudah berada di bulan Rabiul Awal, bulan bersejarah bagi umat manusia sedunia. Sebagaimana khatib Jum’at di Masjid Humasa Rantau, Jum’at (26/12) menyampaikan dalam khutbahnya disamping menghimbau kita selaku umat Muslim untuk selalu meningkatkan taqwa kita terhadap Allah.SWT, sebagai bekal untuk kehidupan kita nanti. Demikian juga patut bersyukur kepada Allah Tuhan Seru Sekalian Alam atas nikmat sehat, dan umur kita yang masih bisa menikmati bulan Rabiul Awal ini.
Didalam bulan ini ada tiga peristiwa penting yang menjadi legenda pada diri Rasulullah Nabi Muhammad.SAW. Pertama bulan kelahiran Nabi Muhammad.SAW. Kedua, hijrahnya Nabi Muhammad.SAW ke Madinah. Ketiga, Wafatnya Nabi Muhammad.SAW.
      Senada Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab.Tapin juga menyampaikan bahwa 12 Rabiul Awal bulan Maulid Nabi Muhammad.SAW merupakan mmomentum yang baik untuk mengevaluasi kembali keteladanan kita terhadap Baginda kita Rasulullah Nabi Muhammad.SAW. Diantaranya untuk memperingati hari kelahiran Beliau pada 12 Rabiul Awal yang tentunya tujuan pokok kita adalah untuk meningkatkan keimanan kita, amal sholeh, amal sosial, taqwa kita, serta tentunya meningkatkan keteladanan kita terhadap pribadi Rasulullah Nabi Muhammad.SAW. “Jangan sampai momentum bulan Maulid ini hanya berlaku sekedar peringatan-peringatan tanpa meninggalkan suatu ikatan-ikatan dalam jiwa kita sebagai umat Rasulullah.SAW, “katanya diamini BadalMayaLTQ.
Kita harapkan seluruh masyarakat Muslim marilah kita ikuti semua kegiatan-kegiatan di bulan Maulid pada 12 Rabiul Awal ini sekaligus kita lebih memperdalam dan lebih menghayati ajaran-ajaran Baginda Rasulullah.SAW dalam rangka kita mengwujudkan kehidupan yang lebih baik sekaligus untuk bekal bagi kehidupan kita di dunia maupun di alam akhirat nanti.
Semarak Bulan Maulud Nabi Muhammad.SAW
      12 Rabbiul Awal bulan Maulid Nabi Muhammad.SAW, bulan kelahiran Nabi Muhammad, bulan Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, dan bulan Haul atas meninggalnya Nabi Muhammad.SAW.
      Barokah bulan Maulid di daerah ini tergambar jelas, berbagi antar sesama umat Muslim melalui Wakilnya dengan meneladani Rasulullah Nabi Muhammad.SAW. Terhitung mulai hidup sehari bulan Rabiul Awal semarak terdengar kumandang shalawat atas Nabi Muhammad.SAW serta keluarga dan para sahabat serta pengikutnya melalui instrumentasi Gendang Rebana yang dibawakan grup penerbang. Demikian pun lantunan zikir dan ayat suci Al-Qur’an merdu khusyu tedengar serta Tausyiah yang disampaikan para Guru, Arif Billah, dan Alim Ulama di Masjid dan Surau Mosholah. Banyak warga menghadirinya dan diantaranya memperingatinya dengan menyelenggarakan syukuran dan doa bersama sekaligus haulan yang diselengarakan dan dihadiri undangan antar warga. Peringatan Maulid digelar warga di Surau Musholah dan Masjid serta syukuran dipermukiman rumah penduduk tempat tinggalnya, lembaga organisasi masyarakat Islami, hingga lingkungan perkantoran Pemerintah Daerah.
      Didaerah ini ada budaya tradisi yang khas terselenggara setiap bulan Maulid Nabi, diantara kegiatannya adalah “Prosesi Beayun Maulid Nabi Muhammad.SAW bertempat di Masjid Keramat Desa Banua Halat”. Masjid Al Mukarammah, prosesi beayun akan curahan rahmat dan kasih sayang Allah.SWT melalui wasilah cahaya Nabi Muhammad.SAW.

      Ribuan ayunan mengalun naik turun seiring lantunan shalawat terhadap Baginda Rasulullah Nabi Muhammad.SAW dan kumandang zikir yang dibawakan para santri dengan instrumentasi rebana dan gendangnya. Yaa Allah, Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah terhadap junjungan Baginda Rasulullah Nabi Muhammad.SAW beserta seluruh keluarga dan para sahabat serta pengikut Beliau hingga akhir zaman. Yaa Allah bentangilah curahan asuhan cinta, kasih, dan sayangMu selalu terhadap kami disini dan jadikanlah kami tempat persinggahanMu selalu dan tetap dalam formasi bintangmu dengan cahaya Nabi Muhammad.SAW serta sasaran cemburuMu berupa kasih dan sayang. Lindungilah Kami dari murka dan azabMu. Yaa Allah naungilah kami yang menyandarkan Hallikhwal dari Mu dengan niat karenaMU, Engkaulah maksud kami serta Maghfirah dan RidhoMu tujuan hidup kami. Yaa Allah tetapkanlah kami untuk selalu Istiqomah ingat terhadap Allah dan taat terhadap ajaran Nabi Muhammad.SAW dengan menyerahkan diri penuh kepada Allah.SWT Tuhan Seru Sekalian Alam Semesta Ini. Tiada Tuhan Selain Allah, Allah tempat bergantung dan bersandar. (RUMIMFN LTQ)

Sabtu, 16 Oktober 2010

Menikah Muda atau Menikah Mapan??

Banyak pasangan muda yang terjebak dalam dua pilihan ini. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum akhirnya mengambil keputusan yang manakah yang akan dilakukan. Pernikahan bukan sekedar permasalahan menyatukan dua pribadi ke dalam satu ikatan. Lebih dari itu, pernikahan merupakan sebuah keputusan besar menyangkut masa depan, ya masa depan yang akan dan harus dihadapi oleh pemilihnya. Pertimbangan apa saja yang kemudian harus dilakukan sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk menikah?

1. Dosa
Banyak pasangan muda yang memutuskan untuk menikah dengan pertimbangan menghindari perbuatan dosa. Apakah benar agama memerintahkan seperti itu? Banyak pendapat yang akhirnya harus ditilik ulang mengenai hal ini. Agama memerintahkan seseorang untuk menikah pada saat seseorang sudah siap, kesiapan disini adalah kesiapan secara menyeluruh, dan tidak ada agama yang menyebutkan perintah untuh menikah agar terhindar dari perbuatan dosa. Dalam Islam sendiri di jelaskanbahwa menikah itu harus dilakukan apabila seseorang telah merasa siap dan apabila belum siap maka berpuasa-lah. Kalau pembenaran ini yang kemudian digunakan sebagai alasan mengapa orang menyebutkan bahwa menikah adalah untuk menghindari perbuatan dosa, rasanya terlalu dangkal.

Pada saat kita menikah dengan alasan untuk menghindari perbuatan dosa, maka alasan utama pernikahan yang akan berlangsung adalah nafsu. Mengapa demikian, karena mau tidak mau kita harus mengakui menikah ataupun tidak menikah dosa itu tetap saja dapat terjadi. Semua kembali kepada niat dan hati. Semurni apakah niat kita untuk membentuk sebuah ikatan suci, sehingga nafsu bukan menjadi awal dasar pemikiran untuk mengambil keputusan melaksanakannya.

Mungkin banyak yang menyangkal kalau alasan menikah untuk menghidari perbuatan dosa adalah didasari oleh nafsu. Tapi coba fikirkan ulang, ”Saya menikah untuk menghindari perbuatan dosa”. Perbuatan dosa apa yang dihindari jika kita tidak berbicara tentang nafsu? Saya kira penjelasan sedikit ini pun sudah menjadi logis, bukan.

Agama menjelaskan bahwa menikah adalah sebuah tanggung jawab. Alasan untuk menghidari perbuatan dosa adalah alasan yang paling dangkal untuk dijadikan dasar mengapa seseorang menentukan untuk menikah di usia muda. Karena lebih dari itu pernikahan adalah sebuah ikatan suci dimana dua orang yang memutuskan terikat dalam sebuah pernikahan bertanggung jawab untuk saling membina sehingga akhirnya tercipta sebuah keluarga yang harmonis sesuai dengan harapan.

Saat ini berapa banyak pasangan yang tidak menemukan keharmonisan dalam kehidupan keluarganya. Dapat kita yakini bahwa ini bisa terjadi karena kesalahan dasar yang diletakkan atas pernikahan itu. Karena tidak ditemukan esensi pernikahan yang sesunguhnya pada saat mengambil keputusan untuk menikah. Hal ini biasanya disebabkan karena pada beberapa orang yang memutuskan untuk menikah muda kondisi mereka secara mental belum stabil, sehingga yang ada hanyalah keinginan untuk bisa selalu bersama dan semua yang ada dipandangannya tentang pasangannya adalah keindahan. Entahlah keadaan itu dapat bertahan berapa lama, jika ternyata alasan menikahnya memang tidak tepat. Bukankah Tuhan juga tidak menyukai perceraian?!

2. Orang Tua
Yang paling banyak idak setuju saat seseorang memutuskan untuk menikah muda, biasanya adalah orang tua. Tidak hanya orang tua dari pihak perempuan, tetapi juga orang tua dari pihak laki-laki. Mengapa demikian?

Mari kita berada di pihak orang tua perempuan.
Apa yang kita harapkan dari pernikahan anak perempuan kita? Siapa yang kita harapkan untuk dapat menjadi pendamping hidup anak perempuan kita? Seperti apa yang kita harapkan dari kehidupan anak perempuan kita setelah menikah?

Bahkan orang tua dengan kekayaan berlimpah yang tak akan habis membiayai seluruh keluarganya pun akan memikirkan hal ini. Karena bukan hanya materi yang menjadi bahan pertimbangan orang tua untuk melepaskan anak perempuannya menikah dengan seorang laki-laki. Tetapi bukan berarti juga cukup bagi seorang laki-laki bertingkah laku baik ataupun berpendidikan layak untuk memenuhi pertimbangan menjadi pendamping hidup anak mereka.

Apa yang biasanya menjadi pertimbangan orang tua sebelum melepaskan anak-anak perempuan mereka ke jenjang pernikahan. Dalam kebudayaan kita, kita sering mengenal istilah ”bibit, bebet, dan bobot”. Lalu apa pula artinya itu?

Biasanya orang tua akan melihat asal-usul calon suami anak perempuannya, siapa orang tuanya, dimana rumahnya, seperti apa keluarganya, lingkungannya. Mungkin yang tampak tidak seberat itu, tapi itulah yang terjadi. Itu baru dari salah satu sisi. Masih ada lagi pertimbangan lainnya seperti pekerjaan, dan tentu saja pertimbangan logis lainnya.

Percaya atau tidak, seorang sahabat sampai pernah menjadi semacam detektif sewaan orang tua seorang anak perempuan untuk mencari tahu mengenai laki-laki yang berniat ingin menikahi puterinya. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan puterinya juga laki-laki tersebut. Dan hasil investigasi rahasia itulah yang akhirnya menjadi dasar keputusan sang orang tua untuk memberikan ijin kepada puterinya menikah dengan leki-laki tersebut.

Intinya orang tua seorang perempuan ingin benar-benar yakin jika mereka melepaskan puterinya kepada laki-laki yang tepat. Yang akan memberikan kebahagiaan, kedamaian, perlindungan, serta pengayoman kepada puteri mereka. Sehingga merekapun dapat tersenyum bahagia melihat puterinya berbahagia membina keluarga yang harmonis bersama laki-laki pilihan hatinya.

Patut disadari oleh setiap laki-laki bahwa memberikan keyakinan kepada orang tua seorang perempuan bahwa puteri mereka tidak akan pernah tersia-siakan adalah penting. Tapi tidak cukup hanya itu bagi orang tua perempuan untuk dapat sampai berkata ”ya”. Tetapi tidak perlu terlalu takut ataupun gentar, karena saat ini orang tua pun tidak lagi memaksakan kehendak mereka, mereka hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan sebelum akhirnya sampai pada keputusan bersama. Bukankah dalam budaya kita menikah itu bukan hanya menyatuka dua pribadi, tetapi adalah mengikatkan dua keluarga dalam satu ikatan persaudaraan.

Lalu bagaimana dengan orang tua laki-laki?
Sama seperti halnya orang tua perempuan, orang tua dari pihak laki-laki pun juga memiliki pertimbangan-pertimbangan sebelum mengijinkan putera mereka menikahi seorang perempuan. Yang paling banyak terjadi adalah pertimbangan bahwa apakah putera saya tersebut benar-benar siap untuk melangkah kejenjang pernikahan, dan menjadi pemimpin dalam keluarganya nanti. Tentu saja selain juga pertimbangan ”bibit, bebet, dan bobot” dari pihak perempuan yang kelak menjadi istri bagi puteranya.

Logisnya adalah semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi putera dan puterinya. Apalagi pernikahan adalah sebuah ikatan yang diharapkan tak berbatas waktu. Mereka ingin agar putera dan puterinya mendapatkan kehidupan yang baik dan juga kebahagiaan setelah menikah. Serta tidak menjadi beban bagi keluarganya tentunya. Ini semua terlepas dari usia berapakah mereka akan melepaskan puter puterinya tersebut ke pintu gerbang pernikahan.

3. Mental
Mungkin ini yang benar-benar perlu disiapkan dan dipertimbangkan secara matang. Mau tidak mau, diakui atau tidak, mental orang-orang muda masih jauh dari stabil. Banyak memang hal-hal positif dari keadaan mental yang dinamis ini. Tapi juga tidak sedikit yang pada akhirnya menyesali keputusan yang pernah di buat lalu ingin mengubah keputusan tersebut. Bayangkan bila hal ini yang terjadi dengan kehidupan pernikahan.

Cinta membutakan segalanya. Yang terlihat hanyalah keindahan. Semua menjadi terasa emosional saat berurusan dengan hal ini, sehingga logika pun jauh terabaikan. Tidak hanya mereka yang berusia muda yang bisa dibutakannya, bahkan mereka yang sudah berumur pun juga sangat mungkin dibutakan oleh cinta.

Bayangkan, dalam keadaan buta dengan kondisi mental yang tidak stabil, mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan, tidak hanya diri sendiri tapi juga orang lain. Apa jadinya keputusan itu? Peluangnya 50-50. Berhasil atau gagal. Tepat atau sama sekali salah. Sayangnya biasanya diusia muda dengan mudahnya kita berkata, ”Semua hal dalam hidup ini kan ada resikonya, kalau tidak di coba kita tidak pernah tahu.” Hay, anak muda! Ini bukan masalah coba-coba! Ini masalah masa depan hidup anda dan orang yang menurut anda adalah cinta sejati anda. Benar setiap keputusan itu beresiko, tapi anda tidak bisa bermain-main dengan hal yang satu ini. Sekali anda salah melangkah, yang anda rusak adalah sebuah kehidupan. Masih bagus jika saat anda menganggap itu adalah kegagalan belum ada orang ketiga, keempat dan seterusnya yang seharusnya menjadi pelengkap hidup anda. Ya, anak. Terpikirkan kah masalah ini saat anda berkata ”semua ada resikonya”? Tidak sedikit anak yang menjadi korban kesalahan keputusan orang tuanya sebelum mereka diciptakan.

Oleh karena itu, untuk masalah yang satu ini kita benar-benar memerluakn nasehat dan pertimbangan dari orang-orang terdekat yang memiliki pengalaman lebih. Mereka akan menceritakan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan saat kita memutuskan untuk membina rumah tangga, terutama di usia muda. Mereka akan membantu kita untuk melihat lebih dalam mengenai cinta yang kita rasakan, sehingga cinta itu benar adanya sehingga kita tidak buta saat memutuskan melanjutkannya ke jenjang pernikahan. Mereka akan dengan bijaksana tidak menggurui kita untuk mengambil langkah tertentu, tapi membantu kita berpikir dan mempertimbangkan matang-matang mengenai keputusan yang akan kita ambil.

Akan ada banyak permasalahan yang harus dihadapi saat kita memutuskan untuk menikah. Bahkan satu menit pertama setelah ikatan itu diresmikan. Status, sadar bahwa kita adalah kepala, kaki, mata, tangan, mulut dan jiwa bagi pasangan kita sehingga tidak ada lagi waktu untuk bersikap egois, apalagi sampai ”cuci mata”. Dengan status yang baru, akan selalu hinggap tanggung jawab baru pula. Dan dibutuhkan kesiapan mental untuk itu. Berbagi, juga menjadi permasalahan baru. Percaya atau tidak, setelah menikah berbagi itu tidak sama dengan pada saat berpacaran. Di tingkat ini berbagi adalah seutuhnya, bahkan berbagi kehidupan. Bukan sekedar berada disisinya saat ia sakit, tetapi lebih dari itu juga berfikir cara apa yang harus dilakukan untuk kesembuhannya. Bukan sekedar berbagi es krim sambil tertawa dan bercanda di taman, tapi hingga berfikir apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi kebutuhannya esok, lusa dan nanti. Itu baru kebutuhan, lain lagi dengan keinginan. Bukan sekedar berbagi tempat duduk, tapi bahkan berbagi setiap ruang-ruang pribadi. Rumah, kamar, kamar mandi, bahkan tempat tidur. Bukan satu dua hari, tapi seluruh sisa hidup kita. Dan yang lebih berat lagi (karena memang tidak bisa dibilang ringan), dimana saya dapat memberikan perlindungan dan keamanan serta kenyamanan menjalani kehidupan yang telah dipercayakannya kepada saya. Benar, termasuk juga didalamnya materi; tempat tinggal, nafkah lahir, dan sebagainya. Kadang tidak perlu mewah atau berlebihan, tetapi cukup untuk memberikan kebahagiaan.

Bagaimanapun kondisi mental yang tidak stabil saat berada dalam kehidupan pernikahan akan lebih banyak membawa kedalam kesalahan. Tidak sedikit akhirnya membuahkan kekerasan akibat tekanan yang terjadi setelah menikah. Tidak sedikit juga yang merasa kecewa dan terlambat menyadari ternyata pasangannya adalah bukan seperti yang dibayangkan sebelumnya. Perbedaan ideologi yang muncul setelah menikah, kemudian menumbuhkan konflik, disertai egoisme, lalu akhirnya berpisah. Semua tidak pernah terbayangkan sebelum menikah. Karena sekali lagi, saat itu semuanya adalah keindahan.

4. Materi
Bagaimanapun tidak ada yang mengharapkan hidup dalam tekanan materi. Bohong, kalau kita berkata makan sepiring dua dengan cinta tetap akan bahagia. Dan mau tidak mau, dikatakan atau tidak, setiap orang tua ingin anaknya mandiri pada saat masuk ke dalam kehidupan pernikahan. Tidak lagi tergantung pada suntikan dana dari mereka.

Pada saat kita berkata saya akan menikah kepada orang tua, maka yang terlintas di benak mereka adalah, ”anak saya telah siap menjadi seseorang.” menjadi seseorang disini berarti kita siap mempunyai hidup kita sendiri, bertanggung jawab terhadap diri sendiri serta kerluarga kita, dan tidak lagi tergantung pada mereka.

Mau tidak mau materi selalu menjadi bahan pertimbangan saat seseorang memutuskan akan menikah. Bayangkan, di negara kita, dengan budaya kita, untuk menikah saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Padahal dalam agama menikah itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang demikian besar. Selama syarat dan rukunnya terpenuhi pernikahan itu sudah sah. Tapi siapkah anda dengan pendapat lingkungan dan masyarakat saat anda menikah hanya secara agama saja? Sudah terlanjur mengakar jika kebanyakan orang di sekitar kita lebih cenderung untuk menilai sesuatu secara negeatif. Dan konsekuensi itu juga yang harus kita hadapi. Bahkan jika kita pernikahan kita seperti yang kita lihat di film-film hollywood yang hanya prosesi dan sedikit makanan kecil. Tetap saja akan terdengar nada-nada sumbang. Mengapa terjadi? Karena masyarakat kita terbiasa dengan upacara yang ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bukan hanya upacaranya, tetapi kemudian juga resepsinya. Dana yang tidak sedikit bukan? Padahal masih banyak hal yang harus dilakukan setelah upacara pernikahan itu selesai.

Telah dibahas sebelumnya mengenai kebutuhan-kebutuhan pasca pernikahan. Ternyata hal-hal tersebut tidak hanya secara mental, tetapi juga terkait secara signifikan dengan kebutuhan materi. Bayangkan, dimana kita akan tinggal? Pondok mertua indah? Sewa rumah? Atau memiliki rumah sendiri? Berapa biaya yang anda pelukan untuk itu?jika pun tinggal bersama orang tua, apakah kita juga akan menggantungkan hidup kita sehari-hari kepada mereka? Makan kita, minum kita, pakaian? Sampai kapan? Belum lagi urusan kehamilan, persalinan, anak, tidak satupun yang lepas dari materi, bukan!

Pada akhinya kita harus kembali pada pemikiran bahwa pernikahan adalah sebuah keputusan jangka panjang yang harus dipikirkan secara matang. Menikah muda atau mapan adalah pilihan bagi setiap orang. Karena inti pernikahan tidak terletak dari berapa usia kita, atau berapa banyak deposito yang kita miliki. Pernikahan perlu pemikiran yang lebih dari itu. Saya teringat kata-kata yang disampaikan seorang sahabat, ”Tidak pernah selesai jika kita menungu waktu yang tepat untuk menikah, kapan pun pernikahan adalah sebuah keputusan. Saat kita memutuskan untuk melaksanakannya, lakukanlah. Hari ini, besok atau lusa sama saja. Selama kita mantap dan siap dengan semua konsekuensinya.”

Ya, mantap dan siap dengan semua konsekuensinya. Akhirnya saya kembali berfikir, benar bahwa kedewasaan dan kematangan mental tidak tergantung pada usia dan deposito yang kita miliki. Tapi dari seberapa besar kita berani mengemban tanggung jawab besar atas sebuah kehidupan. Tidak hanya kehidupan kita sendiri, tapi juga kehidupan orang lain, pasangan hidup serta keturunan kita kelak

Hal yang harus diperhatikan sebelum menikah

Alasan Menikah

Hal paling utama adalah keyakinan diri. Oleh sebab itu, yakinkan diri, kenapa Anda harus menikah? Apa yang ingin Anda peroleh dari pernikahan? Apa dampaknya terhadap diri Anda, si dia, dan keluarga masing-masing? Kalau belum menemukan jawaban yang pas, atau kalau Anda masih bimbang, kalau alasannya masih belum realistis, lebih baik tunda dulu sampai Anda merasa benar-benar yakin.

Siap Berbagi

Anda harus siap menerima kenyataan bahwa tinggal bersama itu rasanya berbeda dengan tinggal sendiri. Apa-apa harus dibagi, bukan sekedar kamar dan lemari, tetapi berbagi perhatian, waktu, seks, dan emosi.

Siap Berpisah

Tidak ada satu pun yang abadi di dunia ini. Menikah merupakan cara untuk menyatukan dua hati yang berbeda dan membina suatu rumah tangga. Ketika Anda mengucapkan ikrar pernikahan, ketika itu pula Anda harus menyadari akan adanya salam perpisahan.

Siap Sakit Hati

Segala tindakan dan perbuatan pasti mengandung risiko, demikian juga pernikahan. Pernikahan merupakan ajang membuka “kedok” masing-masing. Kalau sudah memutuskan untuk menikah, Anda harus siap menerima risiko paling buruk sekalipun dari kebiasaan pasangan Anda.

Siap Tahan Banting

Masalah selalu ada, kapan saja, di mana saja. Adakalanya permasalahan timbul untuk memperbaiki kualitas hubungan Anda. Oleh sebab itu, akan lebih baik apabila Anda selalu siap membuka diri untuk bertukar pikiran dengan pasangan agar hubungan emosi tetap terjalin.

Siap Mengalah

Mempunyai acara, pendapat, atau prinsip sendiri boleh-boleh saja, tetapi ingat, pasangan Anda juga mungkin mempunyai kesibukan, pendapat, dan keinginan yang berbeda dengan Anda. Maka meningkatkan jiwa toleransi, fair dan saling menghargai, akan sangat membantu.

Siap Malu

Anda tentu mempunyai kriteria tersendiri dalam memilih pasangan. Tetapi, seburuk apa pun sifat dan perilaku pasangan Anda di mata publik, dia adalah pilihan Anda. Oleh sebab itu, Anda harus berani “mati” dan siap malu untuk menjaga kehormatan masing-masing.

Siap “Tekor”

Percaya atau tidak, dalam Marriage, keuangan merupakan masalah utama pasangan suami istri bercerai. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda selalu mendiskusikan soal satu ini dan akan lebih baik apabila Anda masing-masing siap bahu membahu mengatasi masalah ini.

Soal Anak

Kendati kehadiran anak sangat didambakan, tetapi disadari atau tidak, anak dapat mempengaruhi hubungan dan atmosfer kehidupan pernikahan. Bagaimana pun, kehadiran anak adalah karunia Tuhan, maka bersikap rasional dalam masalah ini akan lebih baik. Anda tidak harus mengurangi jatah waktu untuk berdua dengan atau tanpa anak sekalipun.
Tidak ada hal yang tak mungkin di dunia ini. Berdoa saja tidak akan cukup, tetapi harus diikuti usaha.

Soo??? Do U Ready???……

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah

Sebagaimana dikutip dari blog sebelah, Dari pengamatan saya, ada hal yang sangat penting harus dimiliki oleh pasangan sebelum memutuskan untuk menikah. Karena pernikahan yang baik adalah sekali seumur hidup, apalagi nantinya akan ada anak-anak yang akan dilahirkan dan berhak memperoleh kebahagiaan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua secara utuh.

1.Siap mental

Kesiapan mental perlu dimiliki oleh pasangan yang akan menikah, karena menikah adalah seperti melangkah ke gerbang kemandirian. Menikah adalah awal hidup baru, yang sangat jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya, yang selalu terlindung dari orangtua dan keluarga lainnya. Jangan sampai keinginan menikah karena ingin lepas dari segala keruwetan, sehingga dengan menikah diharapkan semua beban terlepas. Menikah, walau telah mengenal calon pasangan dengan baik, tapi tetap ada sifat-sifat yang belum terlihat, yang memerlukan penyesuaian. Penyesuaian ini kadang terlaksana dalam waktu dekat, tapi ada juga yang mengatakan bahwa dua tahun di awal pernikahan adalah tahun untuk saling menyesuaikan, banyak hal yang diperdebatkan dan dipertentangkan disini. Perdebatan dan pertentangan ini jangan dianggap tidak cocok, namun untuk mendapatkan persepsi yang sama.

2.Telah mempunyai penghasilan

Berani menikah, berarti berani hidup sendiri tak tergantung pada orang tua. Oleh karena itu hendaknya pasangan telah mempunyai penghasilan yang mencukupi untuk kehidupan sehari-hari, dan tentu saja dengan tambahan anggota baru (anak) nantinya. Walaupun sama-sama cinta, tak berarti menikah hanya didasarkan oleh cinta saja, karena untuk membiayai rumah tangga diperlukan keuangan yang cukup agar rumah tangga terselenggara dengan baik.

3.Kedua pasangan mempunyai cara pandang dalam menilai kehidupan yang sama.

Hal ini sangat penting, misalkan salah satu pasangan sangat berhati-hati dalam memutuskan sesuatu, sedang yang lain pengeluaran uang tak dipikirkan masak-masak, hal ini akan menimbulkan pertentangan yang terus menerus. Perlu diskusi yang terus menerus untuk menyamakan pendapat, agar nantinya suami isteri mempunyai pandangan yang sama. Karena hal ini berperanan dalam cara mendidik anak, karena diharapkan orangtua mempunyai disiplin sama dalam menentukan hal-hal yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh anak.

4.Menikah adalah percampuran budaya antara dua keluarga

Hal ini perlu disadari oleh kedua pasangan, karena walaupun berasal dari suku dan kepercayaan yang sama, bisa terjadi perbedaan pandangan, apalagi pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda latar belakang. Pasangan harus bisa bertindak dewasa, menyikapi perbedaan pandangan antara kedua orangtua, tanpa memihak salah satu diantaranya. Pasangan harus mempunyai keyakinan, apa yang diinginkan berdua, itulah yang seharusnya diyakinkan pada kedua orangtua, bahwa mereka sekarang telah menjadi satu keluarga yang baru, yang mungkin berbeda dalam cara memandang, dan menilai sesuatu dibanding kedua orangtuanya.

Catatan:

Gara-gara sering mendengar ceramah dari berbagai pihak sejak tahun kedua kuliah, saya sempat takut menikah dan menunda terus, sampai injury time.… Dari tante seorang sahabat (dia pernah gagal dan menikah kedua kalinya), dari tante kost (pernah sempat tunangan dan ga jadi menikah…pesannya jangan pakai warna ungu saat tunangan atau menikah…..ingat pramugari Garuda asal Yogya, yang kecelakaan dan meninggal pada saat hampir menikah? Kok ya kebetulan temanya ungu), namun semua harus dikembalikan pada takdir dan memang belum berjodoh. Dan pesan bude teman (saya kost bareng teman di bude nya, di daerah Tanah Abang, saat awal bekerja di Jakarta)….menikah harus dipikirkan masak-masak, dan kebahagiaan suami isteri harus dibuat, artinya menerima dan berdamai dengan keadaan, dan jangan pernah meminta suami tambahan uang, apa yang diberikan suami harus dicukupkan untuk satu bulan, dan usahakan ada sisa untuk ditabung. Keluarga bude ini hidup sederhana, dan saya melihatnya sangat berbahagia dalam kesederhanaannya. Sumber Keluarga Pra Sejahtera